Langsung ke konten utama

Alone

Guten morgen, my besties 

Judul ini mewakili apa yang aku rasakan saat ini. Ditemani oleh guyuran air mata hujan, hawa menusuk dinginnnn 16°,guys! 

Nggak tau akhir-akhir ini perasaanku manja banget. Dulu kuat berjuang sendiri, belajar sendiri, menikmati sendiri, bermindset 'selagi bisa sendiri, ngapain minta tolong sama orang lain',and nggak sibuk mengeluh ini itu ke orang lain. 

Individualis memang. Tapi kenapa sekarang sifat itu menguap, hilang? 

Apa selama ini aku salah, Tuhan? 

Saking individualis nya, sampai aku lupa melibatkan Tuhan dalam segala kegiatan, segala peristiwa,segala tawa bahagia,segala sedih yang malah aku sibuk mencari penguatan dari selainNya. Apa ini penyebabnya? 

Hujan semakin gak terkendali, deras lalu reda, lalu deras lagi, guys! 

Aku membayangkan cuplikan novel or film yang menggambarkan,nikmatnya menikmati cokelat panas yang mengepul, menarik selimut hangat, menikmati suara hujan, menatap jendela yang mengembun, ditemani oleh canda tawa teman or minimal menikmati kesendirian dengan hal yang menenangkan diri. 

Namun, itu cuma bayangan, guys! 

Hidup nggak seindah apa yang kita ekspektasikan and novel/film ceritakan. 

Life is full of secret 

Mungkin, di usia kita sekarang, pada sibuk memikirkan banyak hal yang ingin dicapai, si dia yang nggak peka, wkwkwk ~percintaan, harapan, impian, skill yang ingin diasah, pekerjaan, perkuliahan, and hal-hal positif lainnya. Namun, aku masih bertahan dalam keadaan mencoba untuk baik-baik saja. 

Masih aja overthinking. 

Masih aja berjuang nguatin diri. 

Masih aja membangun Benteng dari sisa-sisa puing kelemahan dan kekalahan

Ada yang masih seperti aku, guys? 

Kalo iya, kita berjuang sama-sama ya! 

Nggak ada salah kita masih berusaha kuat. 

Nggak ada salah kita masih tertinggal sama orang lain. 

Nggak ada salah kalo yang lain udah start, sedang kita masih stagnan. 

Yang salah kalo kita terpuruk di tempat yang sama, diwaktu yang lama, dan sudah putus asa untuk bangkit. 

Mungkin sakit bangkit sendirian, ingin cerita tapi sungkan sama yang bersangkutan, takut ngganggu. 

Nah itu yang sekarang aku rasain. 

Memendam semuanya sendiri. 

Sedih sendirian ternyata nggak enak, guys! 

Aku udah mencoba liat-liat motivasi dari ig, yt, nonton video lucu, dengerin podcast, dengerin lagu fav, berusaha ngembaliin mood,bahkan nulis blog sekarang,tapi nggak bisa. Bagaimana pun aku butuh orang lain buat cerita, buat sharing-sharing, tertawa bareng, bersosialisasi dua arah. 

Tapi aku terlalu takut untuk memulai! 😔😔

Aku terjebak dengan ketakutan-ketakutan yang aku buat sendiri. 

Apakah boleh aku meminta tolong kalian guys buat nemenin sebentarrr saja. Cuma mendengarkan suara kalian ber say hello saja udah buat aku berkaca-kaca. 

Apa udah begitu akutnya aku ini?! 

Malam ini aku memutuskan untuk berkomunikasi dengan temen via video call. Rasanya ituuu nggak bisa terceritakan. Aku menemukan kembali euphoria ngakak bareng sama temen, cerita hal-hal yang bikin good mood and aku bersyukur banget masih diberi kesempatan untuk itu. 

Mungkin aku harus lebih banyak berkomunikasi dengan temen temen ku. Nggak cuma baca ketikaan mereka saja, tapi juga dengan mendengarkan suaranya, menatap mata dan senyum mereka, nikmat bett. 


Okey makasih buat kalian yang udah baca curhatanku sampai sini. Maaf klo rancu or kurang bermanfaat. 

Pesenku, meski kita telah berjauhan sama temen yang sudah menemani kita bertahun-tahun, jangan sampai miskomunikasi dengan mereka. Minimal sesekali telponan or bahkan kalo bisa janjian ketemu. Orang-orang di lingkaran hidup kita akan berubah, pada datang, lalu pergi, tapi jangan sampai melupakan mereka, apalagi yang bersama-sama berjuang. 

Okeyy,see you again amigosss!! 

                                       Sumowono,24 Juni 2021

Komentar

  1. Good writing, Ansie! I love the way you express your feelings.

    Ansie, frankly, i do also feel the same things as you, jangan ngerasa sendiri, i’ll be there for you. Aku temenin kok. Semangat terus yaaa💗

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik kecil

  Oyasumi, tomodachi Udah lama banget aku nggak up lagi. Kali ini dengan gaya berbeda aku akan mencoba share kegiatan, suka duka, and motivasi yang mungkin bisa bermanfaat buat kalian.  Waktu telah berganti dengan cepat ya. Enam tahun yang lalu aku hanyalah bocah yang dipaksa untuk mandiri, apa-apa dirasain sendiri, pulang ke rumah setahun dua kali. Gimana caranya hidup dengan orang banyak selama 24 jam. But, it's expensive experience. Apalagi pandemi corona dua tahun terakhir, dimana kita tidak bisa bertatap muka secara langsung, aku bersyukur melewatinya dengan teman-teman di pondok. Masih bisa bercanda bareng and melakukan hal-hal bareng lainnya.  Namun, sekarang udah beda cerita. Kita udah menjadi fresh graduate, sendiri-sendiri, beradaptasi lagi sama orang lain. Masalah or rintangan terjalnya masih sama, namun feelnya udah beda. Kalo sebelumnya kita melewati bareng, bisa saling curhat and mendukung, tapi sekarang... Kita cuma bisa mendem dalam hati aja. Bahkan bisa j...

Politik Uang di Masyarakat

 Menjelang pilkada hari ini, saya yang baru pertama kali mendapatkan hak pilih hanya bisa menghela napas. Pasalnya tempat tinggal saya terdapat praktek money politic, yang bahkan sudah dianggap biasa dikalangan masyarakat umum. Menarik kata-kata yang ditulis Indah Sari Ernamawati dalam artikelnya tentang money politic bahwa 'berada dalam dunia politik bukan tentang benar atau salah melainkan tentang menang atau kalah' jika mindset para paslon seperti ini bukan tidak mungkin mereka akan menghalalkan banyak cara agar mereka menang dan tidak menutup kemungkinan mereka juga calon para koruptor yang akan menghalalkan banyak cara untuk menebalkan kantongnya.  Ayah saya juga menjadi korban money politic. Yang membagikan uang tersebut adalah ketua RT yang menjabat. Saya agak kecewa ayah saya menerimanya. Alasan beliau itu rikuh  dengan ketua RT yang selalu direpotkan oleh ayah saya, dan saya hanya bisa diam.  Pilkada ini pun saya tidak tau bagaimana karakter dari masing-masi...