Oyasumi, tomodachi
Udah lama banget aku nggak up lagi. Kali ini dengan gaya berbeda aku akan mencoba share kegiatan, suka duka, and motivasi yang mungkin bisa bermanfaat buat kalian.
Waktu telah berganti dengan cepat ya. Enam tahun yang lalu aku hanyalah bocah yang dipaksa untuk mandiri, apa-apa dirasain sendiri, pulang ke rumah setahun dua kali. Gimana caranya hidup dengan orang banyak selama 24 jam. But, it's expensive experience. Apalagi pandemi corona dua tahun terakhir, dimana kita tidak bisa bertatap muka secara langsung, aku bersyukur melewatinya dengan teman-teman di pondok. Masih bisa bercanda bareng and melakukan hal-hal bareng lainnya.
Namun, sekarang udah beda cerita. Kita udah menjadi fresh graduate, sendiri-sendiri, beradaptasi lagi sama orang lain. Masalah or rintangan terjalnya masih sama, namun feelnya udah beda. Kalo sebelumnya kita melewati bareng, bisa saling curhat and mendukung, tapi sekarang... Kita cuma bisa mendem dalam hati aja. Bahkan bisa jadi berpura-pura nggak ada apa-apa.
Sudah dua bulan ini aku banyak kesibukan or malah sok sibuk sekarang. Diamanahi menjadi pengurus suatu komunitas and admin dua grup telegram. Aku banyak bertemu and ber say hello dengan banyak orang. Aku seakan menemukan dahaga yang aku cari. Coz in real life, aku nggak punya teman, temenku hanya ada di dunia Maya semua. Cuma sekedar ngechat kalo ada perlu or cuma liat and komen storynya doang. Ketemuan juga jarang, mengingat rumahnya pada jauh and punya kesibukan lain.
Aku pun larut dengan duniaku sendiri and bahkan sampai lupa waktu. Akhirnya aku seperti menuntut perhatian pada orang yang bahkan baru aku kenal. Aku semakin bergantung pada mereka. Yang aku lakuin kalo nggak ada kesibukan ya mantengin grup telegram aja. Bahkan sampe melalaikan kewajiban.
Melalui telegram akhirnya aku mendapatkan temen banyak dengan karakter yang beragam. Aku mencoba friendly and loyal dengan banyak orang. Cuma modal salken~salam kenal, akhirnya jadi dekat. Cuma modal congrats buat yang menang kuis, akhirnya jadi MC di salah satu grup telegram. Cuma modal sabar ketika di dzolimi sama owner and admin suatu grup, akhirnya jadi partner mereka. Banyak hal yang aku pikir sepele tetapi itu membuatku mendapatkan peluang and pengalaman.
Nggak cuma itu aja sih. Sebelum jadi pengurus komunitas, aku orangnya biasa aja. Tapi karena modal inisiatif menawarkan diri iseng-iseng coba membuat link zoom, akhirnya diangkat jadi pengurus komunitas. Aku percaya kalo kesempatan itu tercipta jika kita ingin sedikiiitt saja keluar dari zona nyaman, aktif and berinisiatif membantu.
Namun ditengah kesibukan and sok sibuk yang nggak ada habisnya or malah ditambah tambahin,tetep ada lah rasa stuck, suntuk, and bosen. Rasanya ingin marah tapi kepada siapa and karena apa. Apalagi sifat bergantung kepada orang lain yang malah memperparah suasana hati. Semakin didiamkan semakin muak rasanya. Apalagi berpura-pura baik-baik saja.
Ditambah belum ada kepastian jadi MABA tahun ini, melihat temen-temen yang udah plong keterima padahal aku harus berjuang lagi untuk itu, daftar PTN/PTS, belajar lagi dengan waktu yang mepet membuatku jadi overthinking, banyak beban, suasana hati tidak baik and nano-nano rasanya. Cari temen yang expert di mapel tertentu susah. Ada,tapi slow respon, share soal ke grup nggak ada yang peduli jadi bikin banyak unek-unek tertimbun di batin.
Nggak ada yang tau pasti perasaanku sekarang, hanya orang-orang tertentu saja yang aku percaya untuk minta saran. Aku pernah menulis motivasi dari sebuah novel
"Enggak ada yang lebih membahagiakan daripada diberi semangat dari orang-orang yang kita cintai. Kita memang selalu bisa melakukan hal-hal hebat dengan usaha kita sendiri. Namun, kita enggak selalu bisa memberikan semangat pada diri sendiri, secara terus menerus. Disitulah sebenarnya peran orang-orang terkasih yang memilih dan dipilih untuk berada dalam lingkaran hidup kita.
Tuhan mau kita mandiri,tapi bukan menjadi manusia yang individual"
#ummuchan(2018)
Hal yang membuatku tertampar adalah aku terlalu naif mengejar and menuntut pengakuan dan perhatian dari orang yang bahkan baru aku kenal, and menafikan kesetian and perhatian yang tulus dari orang yang sudah kenal aku bertahun-tahun.
Aku jarang bertukar kabar dengan mereka, telepon bersay hello and ngakak bareng nggak pernah, bahkan sering slow respon menjawab chat dari mereka. Aku belum bisa membagi waktuku, belum bisa memilah mana prioritas, mana penting and mana yang cuma sekadar saja.
Aku terlalu menjadi people pleaser, bahkan parahnya lagi bisa menjadi orang yang terlalu mementingkan urusan orang lain tapi lupa untuk membenahi urusan-urusan yang ada di dalam diriku.
Tapi aku bersyukur, aku merupakan manusia pilihan yang diberi ujian seperti ini. Bisa jadi pembelajaran banget. Bahwa, menjadi orang aktif penting karena bisa membuka kesempatan and pengalaman kita,bersosialisasi sama orang lain penting banget karena kita bisa menilai karakter and mendapatkan ilmu dari mereka, kita membantu orang lain it's good banget, jadi orang yang memiliki ambisi boleh, tapi inget... Semuanya harus dilakukan dengan proposional. Nggak boleh ada 'terlalu' nya. Semua yang terlalu itu nggak baik, guys. Aku juga masih banyak belajar untuk menyeimbangkan nya.
Mari kita sama-sama belajar bareng ya buat jadi orang aktif and produktif namun nggak 'terlalu' juga. In syaa Allah peluang akan datang dengan sendirinya, tinggal kita siap nggak untuk menjemputnya.
Oke itu aja dulu ya my besties. Diambil pelajaran and sisi positifnya. Saran, masukan, and kritik aku tunggu dari kalian.
Moga kita sama-sama sukses kedepannya, sama-sama menikmati jatuh bangun kerja keras kita
See you again, guys
Sumowono, 23 Juni 2021
Komentar
Posting Komentar