Langsung ke konten utama

Politik Uang di Masyarakat

 Menjelang pilkada hari ini, saya yang baru pertama kali mendapatkan hak pilih hanya bisa menghela napas. Pasalnya tempat tinggal saya terdapat praktek money politic, yang bahkan sudah dianggap biasa dikalangan masyarakat umum.

Menarik kata-kata yang ditulis Indah Sari Ernamawati dalam artikelnya tentang money politic bahwa 'berada dalam dunia politik bukan tentang benar atau salah melainkan tentang menang atau kalah' jika mindset para paslon seperti ini bukan tidak mungkin mereka akan menghalalkan banyak cara agar mereka menang dan tidak menutup kemungkinan mereka juga calon para koruptor yang akan menghalalkan banyak cara untuk menebalkan kantongnya. 

Ayah saya juga menjadi korban money politic. Yang membagikan uang tersebut adalah ketua RT yang menjabat. Saya agak kecewa ayah saya menerimanya. Alasan beliau itu rikuh dengan ketua RT yang selalu direpotkan oleh ayah saya, dan saya hanya bisa diam. 

Pilkada ini pun saya tidak tau bagaimana karakter dari masing-masing paslon dan yang saya temukan bahwa paslon pertama itu istri dari bupati sebelumnya dan paslon kedua adalah wakil dari bupati sebelumnya. Saya heran dengan para paslon yang diajukan. Kenapa tidak ada yang lain gitu, saya berusaha menepis rasa suudzon. 

Bagi masyarakat awam, toh yang penting duitnya pasangan siapa pun jadi seakan masa depan Indonesia maju atau tidak bukan urusan mereka. Saya sangsi jika money politic ini tidak ditanggapi dengan tegas, maka suatu saat bakal menjadi kebiasaan, membudaya bahkan menjadi suatu keharusan dan sebuah tradisi untuk pemilihan-pemilihan yang akan datang. 

Ketika  Indonesia ini ingin maju, sumber daya manusia nya bisa bersaing dengan tenaga asing maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah membenahi sistem politik di negeri kita tercinta ini, benar-benar menindak tegas para koruptor dan penguasa yang tidak becus. Mencari pemimpin yang adil dan bertanggung jawab penuh atas rakyatnya. Jika itu terpenuhi bukan tidak  mungkin pemimpin dan para penguasa akan saling bekerja sama mencari solusi dalam masalah rakyatnya. 

Namun nyatanya sistem hukum di Indonesia masih tebang pilih, mereka yang berduit saja yang dapat berkelit dari hukum yang menimpanya, menteri yang seharusnya menjalankan amanah yang diemban nya malah melakukan korupsi dana dan bantuan untuk rakyat, dan para pemimpin yang seharusnya bertindak tegas hanya bisa berdiam diri seolah sebagai boneka yang bisa dimainkan oleh orang-orang dibelakangnya, sedangkan orang-orang dibelakangnya ber hura-hura menikmati rampasan hak rakyat. Sebagai rakyat saya sangat prihatin. 

Haa ahhhh.... Saya hanya bisa menghela napas panjang. Politik memang kotor dan mencapai tujuan di dalamnya juga berkubang di lumpur yang kotor. Sebagai rakyat yang tidak banyak tahu tentang politik saya hanya bisa berdoa semoga negara kita ini bisa berubah menjadi lebih baik terlepas dari segala manipulasi di dalamnya. Kita tidak bisa melawan arus yang ada tapi juga berharap mendapatkan ombak yang lebih baik. Saya yaqin kelak pasti akan ada pemimpin yang bisa bertanggung jawab dan membawa Indonesia menjadi lebih baik

                        Rabu, 9 Desember 2020

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik kecil

  Oyasumi, tomodachi Udah lama banget aku nggak up lagi. Kali ini dengan gaya berbeda aku akan mencoba share kegiatan, suka duka, and motivasi yang mungkin bisa bermanfaat buat kalian.  Waktu telah berganti dengan cepat ya. Enam tahun yang lalu aku hanyalah bocah yang dipaksa untuk mandiri, apa-apa dirasain sendiri, pulang ke rumah setahun dua kali. Gimana caranya hidup dengan orang banyak selama 24 jam. But, it's expensive experience. Apalagi pandemi corona dua tahun terakhir, dimana kita tidak bisa bertatap muka secara langsung, aku bersyukur melewatinya dengan teman-teman di pondok. Masih bisa bercanda bareng and melakukan hal-hal bareng lainnya.  Namun, sekarang udah beda cerita. Kita udah menjadi fresh graduate, sendiri-sendiri, beradaptasi lagi sama orang lain. Masalah or rintangan terjalnya masih sama, namun feelnya udah beda. Kalo sebelumnya kita melewati bareng, bisa saling curhat and mendukung, tapi sekarang... Kita cuma bisa mendem dalam hati aja. Bahkan bisa j...

Alone

Guten morgen, my besties  Judul ini mewakili apa yang aku rasakan saat ini. Ditemani oleh guyuran air mata hujan, hawa menusuk dinginnnn 16°,guys!  Nggak tau akhir-akhir ini perasaanku manja banget. Dulu kuat berjuang sendiri, belajar sendiri, menikmati sendiri, bermindset 'selagi bisa sendiri, ngapain minta tolong sama orang lain',and nggak sibuk mengeluh ini itu ke orang lain.  Individualis memang. Tapi kenapa sekarang sifat itu menguap, hilang?  Apa selama ini aku salah, Tuhan?  Saking individualis nya, sampai aku lupa melibatkan Tuhan dalam segala kegiatan, segala peristiwa,segala tawa bahagia,segala sedih yang malah aku sibuk mencari penguatan dari selainNya. Apa ini penyebabnya?  Hujan semakin gak terkendali, deras lalu reda, lalu deras lagi, guys!  Aku membayangkan cuplikan novel or film yang menggambarkan,nikmatnya menikmati cokelat panas yang mengepul, menarik selimut hangat, menikmati suara hujan, menatap jendela yang mengembun, ditemani oleh...