Langsung ke konten utama

Postingan

Alone

Postingan terbaru

Titik kecil

  Oyasumi, tomodachi Udah lama banget aku nggak up lagi. Kali ini dengan gaya berbeda aku akan mencoba share kegiatan, suka duka, and motivasi yang mungkin bisa bermanfaat buat kalian.  Waktu telah berganti dengan cepat ya. Enam tahun yang lalu aku hanyalah bocah yang dipaksa untuk mandiri, apa-apa dirasain sendiri, pulang ke rumah setahun dua kali. Gimana caranya hidup dengan orang banyak selama 24 jam. But, it's expensive experience. Apalagi pandemi corona dua tahun terakhir, dimana kita tidak bisa bertatap muka secara langsung, aku bersyukur melewatinya dengan teman-teman di pondok. Masih bisa bercanda bareng and melakukan hal-hal bareng lainnya.  Namun, sekarang udah beda cerita. Kita udah menjadi fresh graduate, sendiri-sendiri, beradaptasi lagi sama orang lain. Masalah or rintangan terjalnya masih sama, namun feelnya udah beda. Kalo sebelumnya kita melewati bareng, bisa saling curhat and mendukung, tapi sekarang... Kita cuma bisa mendem dalam hati aja. Bahkan bisa j...

Catatan Kecil

 Saya merupakan salah satu pelajar di sebuah MA dan menetap di salah satu pondok pesantren di Magelang. Saya di sana hampir 6 tahun. Tentu banyak asam manis pahit and hal-hal amazing yang saya rasakan.  Salah satu yang paling menyentil saya adalah masalah pertemanan. Bukan tidak mungkin, karena setiap hari yang kita temui itu-itu saja, kadang percandaan hal sepele pun bisa jadi masalah, kadang suasana hati yang tidak menetu dianggap serius sama yang lain, apalagi kami para santri putri yang hormon nya kadang naik turun.  Namun dibalik itu banyak hal, experience, dan pelajaran yang tidak bisa didapatkan dari pergaulan luar. Salah satunya saling menghargai kekurangan masing-masing teman, saling jahil menjahili dengan teman yang dideketin or ngefans sama lawan jenis,curhat-curhatan, cuci piring bareng, tidur bareng, makan bareng, mengerjakan tugas bareng dan serba bareng lainnya. Dalam ponpes juga kita diajari sabar, sabar sama antrian yang bejibun saat mandi,ambil nasi, jaj...

Politik Uang di Masyarakat

 Menjelang pilkada hari ini, saya yang baru pertama kali mendapatkan hak pilih hanya bisa menghela napas. Pasalnya tempat tinggal saya terdapat praktek money politic, yang bahkan sudah dianggap biasa dikalangan masyarakat umum. Menarik kata-kata yang ditulis Indah Sari Ernamawati dalam artikelnya tentang money politic bahwa 'berada dalam dunia politik bukan tentang benar atau salah melainkan tentang menang atau kalah' jika mindset para paslon seperti ini bukan tidak mungkin mereka akan menghalalkan banyak cara agar mereka menang dan tidak menutup kemungkinan mereka juga calon para koruptor yang akan menghalalkan banyak cara untuk menebalkan kantongnya.  Ayah saya juga menjadi korban money politic. Yang membagikan uang tersebut adalah ketua RT yang menjabat. Saya agak kecewa ayah saya menerimanya. Alasan beliau itu rikuh  dengan ketua RT yang selalu direpotkan oleh ayah saya, dan saya hanya bisa diam.  Pilkada ini pun saya tidak tau bagaimana karakter dari masing-masi...